Aisyah yang Mandiri  

Ini adalah salah satu kisah nyata dari seorang yang mampu keluar dari permasalahan hidupnya dan lebih memilih hidup sendiri tanpa bergantung pada bantuan keuangan orang tuanya. Seorang anak bernama samaran Aisyah tingga di Aceh Jaya tepatnya Desa Panton Kecamatan Teunom menepi jalan kehidupan bersama ibu, kakek dan nenek tercinta. Keluarga bahagia tanpa ayah disisi. Aisyah anak yang lucu, mungil dan berprestasi. Dia mendapatkan banyak keberhasilan baik disekolah maupun ditempat lainnya. Didikan yang di berikan orang tuanya menjadikannya lebih semangat dalam belajar dan mengaji.

Suara yang merdu  juga dimiliki oleh Aisyah, ketika melantunkan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyi lainnya.patut disyukuri ciptaan Allah. Dalam masa kanak-kanaknya Aisyah sudah dibimbing keras oleh ibunya dalam segala hal. Seiring berjalannya waktu, Aisyah menanyakan tentang ayah tercinta,

” Ibu, mengapa kita hanya berempat disini dimanakah ayah ?  kawan-kawanku yang lain mereka selalu bersama ayahnya, ?

rawut wajah ibu mengiringi kegembiraan …ayah sedang mencari rejeki ditempat yang jauh nak, selalu do’akan ayah ya nak…(jawab ibu dengan hati yang begitu terluka)

Ayahanda Aisyah telah pergi semenjak Aisyah berumur 3 tahun dengan alasan yang tak menentu. Namun hal itu tidak menjadi sebuah permasalahan yang besar bagi ibu satu anak ini. Ibu terus berjuang menghidupkan keluarganya dengan bekerja sebagai pengasuh anak, penyetrika,pencuci,,,masya Allah luar biasa, tangan yang kasar membuahkan didikan yang menjanjikan itulah Aisyah.

Umur 8 tahun berlalu, suatu musibah besar yaitu Tsunami menimpa Teunom dan menghabiskan seluruh daratan serta menenggelamkan banyak korban jiwa. Alhamdulillah anugerah Allah masih dilimpahkan-Nya kepada keluarga ini,

Aisyah sangat merasakan kesedihan karena ibu yang sangat dicintainya telah tiada, kini Aisyah tinggal bersama nenek dan kakek tercinta. Namun demikian Aisyah selalu ceria dalam kehidupannya,,, dia habiskan dan hiasi hidupnya dengan belajar dengan tekun. Banyak prestasi yang telah diraihnya mulai dari juara di mtq,pidato,rebana, festifal idol, puisi ,rangking kelas, juara umum,  sungguh banyak rasanya ingin menyebutkan semuanya namun itulah Aisyah gadis tabah yang genius.

Ketika Aisyah beranjak dewasa suatu hari yang sangat luar biasa baginya yaitu pertemuan dengan sang Ayah yang selama ini telah menghilang , perasaan yang bercampur aduk dirasakan oleh gadis yang pintar ini ,tak bisa mengungkapkannya lagi, penulis pun turut gembira. Selama ini Aisyah tidak pernah mengenali ayah, hari ini hari yang paling istimewa dalam hidupnya dengan kondisi nenek yang sedang sakit parah Allah mempertemukan dengan ayah. Namun sangat disayangkan ketika mengenang dan menceritakan kembali apa yang terjadi ayah sudah 4 istri, ibunya Aisyah adalah istri ketiga …rasa shok dirasakan Aisyah namun dia tetap tabah dan selalu berdoa serta bersyukur pada Allah swt.

Alhasil akhirnya Aisyah membulatkan tekadnya untuk merantau kenegeri seberang yaitu Banda Aceh, negeri yang selama ini di impi-impikannya. Dengan tekad yang bulat dia tidak memikirkan biaya dan hal negatif lainnya selama di perantauan karena dia yakin bahwa Allah selalu menolongnya. Aisyah anak yang cerdik dalam mengurusi segala urusan.

Nenek yang selama ini menjadi motivatornya pun telah tiada mengikut kakek beberapa bulan setelah Aisyah berada di Banda Aceh, kini Aisyah sendiri curhatannya hanya kepada Allah. Dia bekerja dibeberapa tempat di Banda Aceh sebagai Guru Pengajar Al-Qur’an bahkan pengalaman yang sangat mengesankan yaitu ketika Aisyah mengikuti peraturan kuliah yang harus menetap di asrama dan dia menjadi pelajar sekaligus pengajar pada saat itu di Ma’had Ali Al-Hasyimi. kemudian juga mengajar di Halaqah uin Ar-raniry dibalik pengajar lain yang sudah mempunyai title.

Dibalik ketelitiannya Aisyah mempunyai cita-cita yang luar biasa yaitu ia ingin menjadi seorang hafizah yang benar-benar karena Allah, maka dalam setiap harinya dia berfikir ingin mencoba merubah dirinya sedikit demi sedikit dengan menetap disebuah pasantren dan Alhamdulillah Aisyah sekarang menetap di sebuah pasantren di Desa Lampuuk, Tungkop yaitu Dayah Darul Aman atas Pimpinan Abu Zakaria bin Muhammad Adami yang almarhum.

Banyak perubahan yang sudah ia dapatkan disini selain menghafal Al-Qur’an, Mengaji Kitab Kuning,  Aisyah juga memperoleh penghargaan sebagai santriwati teladan Dayah Darul Aman 2015. Inilah Rahasia Allah. Cita-citanya semakin dikuatkan yaitu hafizah sejati dunia Akhirat. Mari kita aminkan semoga Allah mengabulkannya Amin…

Inilah perjalanan kisah kehidupan Aisyah yang penuh dengan kerikil-kerikil yang berhikmah tak ada yang abadi terkecuali kekuatan Allah, ingatlah jika engkau datang kesuatu tempat jangan lah membawa cantik,ganteng,pintar, pangkat,martabat,kaya. Karena ada yang lebih cantik dan sebagainya darimu padahal engkau tidak tahu maka bawalah kekuatan Allah sesungguhnya tidak akan ada seorang pun yang bisa menandingi hebatnya dan kuasanya Allah swt. Semoga bermanfaat dunia akhirat. Sebaik-baik hamba Allah adalah yang dapat bermanfaat bagi hamba lainnya, semoga kita bisa menjadi orang pilihan disisi Allah swt

Penulis             :Mm.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s